Kamis, 02 Juli 2009

Sejarah Arabia Setelah Islam

Sejarah
Arabia Setelah Islam

Keingkaran Manusia dizaman atau dimasa apa saja tetap ada, tetapi cara menghukum atau memberi adzab sudah sangat berbeda dengan masa-masa sebelum diutusnya junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w.

Meskipun Muhammad s.a.w. telah menerima Wahyu Illahi dan sebagai Rasulullah, tetapi orang Arabia waktu itu masih menyembah Dewa Bulan yang juga disebut Allah, benda-benda langit, batu-batuan baik berbentuk maupun tidak berbentuk yang dianggap keramat atau dikeramatkan sendiri oleh mereka.

Cerita-cerita Mistik, cerita-cerita Legenda, jimat-jimat sangat melekat pada mereka sebagaimana cerita Aladin dengan lampu wasiatnya dan raksasa terbang.

Ali Baba dengan gua ajaib dan pintunya baru dapat dibuka dengan kata-kata atau doa-doa tertentu yang berisi harta hasil rampokan perampok sehingga Ali Baba yang tadinya miskin mendadak menjadi kaya raya.

Cerita-cerita asal mula air zam-zam berasal dari kaki Ismail a.s. diwaktu kecil yang menendang-nendang tanah kemudian keluar air, kini disebut sumber air zam-zam.

Cerita Nabi Ismail a.s. ketika hendak dijadikan kurban oleh Nabi Ibrahim a.s. disaat akan disembelih kemudian tiba-tiba muncul kambing sebagai penggantinya.

Abunawas, karpet terbang, raksasa mata tiga dan lain-lain cerita legenda atau mistik yg senada.

Kepercayaan demikian masih terbawa pada Komunitas Islam yang mempercayai tulisan-tulisan ayat-ayat Al Qur’an dapat membawa berkah atau mengusir setan jika dibawa atau dikalungkan dilehernya dan bahkan di Indonesia tulisan Arab dianggap keramat.

Tiap bulan Ramadhan mereka mengikuti kebiasaan agama Pagan/Paganisme/agama nenek moyangnya Arabia termasuk agama kabilah Kuraisy, yg selalu mengasingkan diri dan bertapa/puasa mencari kesunyian dan kete - nangan batin di Gua Hira,

Bahkan Muhammad s.a.w. sendiripun sebelum menjadi Rasulullah, juga membiasakan diri bertapa/berpuasa dan menenangkan diri digua tersebut pada tiap-tiap bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan ketika pertama kali beliau menerima wahyu Illahi juga di gua Hira.
Tiap-tiap bulan Idul Adzha kaum Paganisme menjalankan ritual dengan telanjang bulat mengelilingi Ka’bah / hajar aswad ( batu hitam berbentuk kubus dari langit/Meteor ) yang diang-gap sebagai Allah atau Dewa Bulan, Dewa Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha segala-galanya da -ri antara Dewa–Dewa lainnya yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka berlari-lari me-ngejar Iblis (roh jahat) sambil melemparinya dengan batu kecil/kerikil kearah setan tersebut.

Kemudian ritual kaum paganisme yang dahulunya dilakukan dengan bertelanjang bulat waktu mengelilingi Baitullah/Ka’bah, disempurnakan Islam dengan menggunakan baju iqrom yang tidak dijahit dan tidak diperbolehkan memakai celana maupun celana dalam sedangkan ritual pengikut Paganisme melempari Iblis dengan batu kecil/kerikil tetap dipakai sampai sekarang yang kemudian disebut dengan lempar jumroh.

Sedangkan waktu ritual menghormati atau mencium hajar aswad dan banyaknya kaum Paganise mengelilingi Ka’bah dan melempari Iblis dengan batu kecil/kerikil tetap dipakai oleh orang Islam sampai hari ini.

Demikian juga kebiasaan orang Arabia atau ritual pengikut Paganisme puasa di Gua Hira dibulan Ramadhan, disempurnakan oleh Islam menjadi puasa diluar Gua Hira tetapi tetap dilakukan di-bulan Ramadhan dengan kurun waktu yang sama dengan pengikut Paganisme yakni selama 30 ( tiga puluh ) hari, termasuk cara menetapkan awal puasa dan mengakhiri puasa diawali dengan munculnya bulan sabit dan diakhiri dengan munculnya bulan sabit berikutnya.

Perhitungan hari berdasarkan peredaran bulan penganut Paganisme, tetap dipakai oleh orang Arabia & Islam sampai sekarang yang waktu itu bulan dipercaya sebagai Dewa Laki-laki dan Matahari dipercaya sebagai Dewa Perempuan atau Dewi.

Awal mula penyebaran Agama Islam, Muhammad s.a.w. menyebarkan dengan santun dan penuh toleransi dengan Agama lain, bah-kan minta perlindungan pada orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika masih dimusuhi oleh Kabillah Kuraisy, hubungan baik dengan Nasrani diabadikan dalam Al Qur’an ( QS 5 – Al Maidah – 82 ).

Tidak ada paksaan dalam beragama ........ ............. .dst. ( QS 2 - Al Baqarah – 256 )

........... Aku tidak menyembah yang kamu sembah, dan kamu tidak menyembah yang aku sembah, Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku. ( QS 109 – Al Kafirun - 1 s/d 6 )

Firman Allah semuanya untuk memperbaiki akhlaq Manusia. Allah tidak akan mengirimkan utusannya jika Manusia tidak terlalu rusak akhlaqnya.

Tugas Nabi dan Rasulullah hanyalah menyampaikan Firman-Firman Allah, mengajak secara damai untuk menyembahNya serta berbuat kebajikan dimuka bumi ini, untuk baik kepada Allah, baik kepada sesama Manusia , baik kepada seluruh makhluk ciptaan Allah, kecuali setan karena jelas musuh Manusia.

Tetapi setelah Islam berkembang dan kuat maka Islam berubah menjadi keras terutama pada orang-orang yang dianggap kafir, sebagaimana Firman Allah dibawah ini ;

“ Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir dalam medan pertempuran, maka pancunglah batang lehernya. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyianyiakan amal mereka.
( QS 47 – Muhammad - 4 )

..................... maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan....... ( QS 9 – Baraa-ah – 5 )

“ Kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan (teror) ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka .............. Maka bukan kamu yg membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka. (QS 8:12;17)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat kekerasan yang senada dapat ditemukan di Al Qur’an , antara lain : QS 2:190 – QS 4:76 - QS 5:33 - QS 8:60 – QS 9:5 - QS 9:14 – QS 9:29 – QS 9:38 – QS 9:41 - QS 9:73 QS – QS 48:29 dan lain-lain.

Rasisme dan rasa superior serta mengharamkan Demokrasi ditanamkan pada pemeluk Islam, antara lain :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu : sebahagian mereka adalah pemimpin sebahagian yang lain. Barang siap diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka ............... “ ( QS 5 – Al Maidah - 51 )

................... barang siapa yang berhukum, tidak menurut Firman Allah ( Al Qur’an ), mereka itu adalah orang-orang kafir.
( QS. 5 - Al Midah 44 )

Muhammad s.a.w. yang merasa belum kuat, pengikutnya masih sedikit dan untuk menyelamatkan diri dari kejaran Kabillah Kuraisy kemudian hijrah ke Medinah, disini Islam diterima oleh orang - orang Medinah, dengan dukungan orang-orang Medinah, dibawah perlin- dungan Yahudi dan Nasrani, Islam menjadi besar dan kuat serta banyak pengikutnya.

Setelah Islam menjadi besar, kuat dan banyak pengikutnya, didahului pengusiran Yahudi dari Medinah maka mulailah Islam melakukan penyerangan pada Kafilah/rombongan pedagang pada hari yang telah disepakati sebagai hari perdamaian di Arabia, kemudian hartanya dirampas dianggap sebagai harta rampasan perang.

Atas tindakan penyerangan dimasa damai itulah, maka Islam mendapat kutukan dari komunitas Arabia, karena Islam dianggap telah merusak hari perdamaian yang seharusnya tanpa ada perang dimasa damai, peristiwa tersebut dikenal dengan Serangan Nakhla.

Ketika Muhammad s.a.w. hendak mempengaruhi Yahudi agar masuk Islam, maka kiblat sholatnya diperintahkan menghadap ke Yerusalem dan hari Sabbat Yahudi digunakan sebagai hari sholat bersama (berjama’ah), setelah ternyata Kaum Yahudi tidak ada yang memeluk Islam, kemudian Kiblat (arah Sholat) dirubah menjadi berkiblat ke-Ka’bah di Mekkah dan hari sholat bersama (berjama’ah) menjadi hari Jum’at mengikuti Sembahyangnya Agama Pagan/Paganisme dalam rangka mempengaruhi Kabillah Kuraisy penganut Paganisme, agar memeluk Islam.

Al Qur’an baru disusun dan dikodifikasi/dibukukan 40 tahun kemudian setelah Muhammad s.a.w. wafat yang dilakukan oleh menantu nya sendiri (Usman bin Affan).

Hasil kerja Manusia, siapapun mereka tetap tidak ada yang sempurna, demikian juga dengan kodifikasi/pembukuan Al Qur’an yang dilakukan oleh teamnya Usman bin Affan.

Sangat disayangkan Al Qur’an yang berdasarkan Wahyu Illahi kodifikasi/dibukukan oleh Usman bin Affan tersebut tidak berdasarkan urutan Wahyu Illahi yang diterima oleh Muhammad s.a.w., melainkan disusun berdasarkan panjang pendeknya ayat, sehingga dapat menimbulkan bermacam - macam pertanyaan tentang keaslian Wahyu Illahi dalam Al Qur’an, karena ada kemungkinan ada Wahyu Illahi yg sengaja dibuang atau dihilangkan karena dianggap merugikan pihak - pihak tertentu dan ada kemungkinan disusupi surat-suratan yang dianggap menguntungkan, mengingat Arabia tidak pernah ada perdamaian sampai hari ini, sedangkan naskah atau tulisan Wahyu Illahi saat Muhammad s.a.w. masih hidup, sudah dimusnahkan berdasarkan perintah Usman bin Affan.

Kodifikasi demikian mengundang banyak kelemahan dan kekurangan sehingga juga menimbulkan keragu-raguan serta membingungkan karena itu perlu kerja keras untuk mempe-lajari atau menggali isinya.

Komentar ilmuwan Muslim, Ali Dasti sendiri mengeluhkan betapa rendahnya mutu ke -susastraan Al Qur’an, sebagai berikut :

“ Patut disayangkan bahwa pengeditan Al Qur’an sangat jelek dan susunan isinya sangat tidak teratur. Semua siswa dalam mata pelajaran Al Qur’an menyayangkan mengapa para editor Al Qur’an tidak menggunakan metode yang logis dan yang biasa digunakan dalam menyusun urutannya menurut waktu wahyu tersebut diterima. Kenapa tidak mengikuti susunan kronologis seperti halnya teks Al Qur’an yang hilang milik Ali bin Abi Thalib. “
Penyebaran Islam oleh Muhammad s.a.w. melalui 2 periode, periode pertama berada di Mekkah berjalan kurang lebih 10 tahun sebelum th. 612 sesudah Masehi dan periode ke dua dipusatkan di Medinah berjalan kurang lebih selama 10 tahun sampai dengan wafatnya Muhammad s.a.w. tahun 623 sesudah Masehi.

Muhammad s.a.w. tidak dapat membaca dan menulis, maka setiap wahyu yang diterima selalu dituliskan oleh sahabat-sahabatnya yg dicatat dan ditulis diatas bahan-bahan seadanya.

Mandudi ilmuwan Muslim kaliber internasional mengakui bahwa, Wahyu Illahi yang diterima Muhammad s.a.w. aslinya ditulis pada daun-daun kurma, kulit-kulit pohon, tulang-tu-lang dan lain sebagainya, apabila Wahyu diterima disekelilingnya tidak ada benda-benda yg dapat ditulisi, maka Wahyu Illahi tersebut dihafalkan oleh sahabat-sahabat Muhammad s.a.w.

Al Qur’an dikumpulkan dari yg dituliskan pada lapisan luar benda-benda atau apapun yg dapat ditemukan, dari potongan-potongan papirus, batu-batu yang rata, daun palem, tulang-tulang binatang, kulit-kulit binatang dan dari hafalan-hafalan orang-orang yang mengetahui.

Beberapa kesulitan yang dihadapi sewaktu mengumpulkan Wahyu-wahyu Illahi yang diterima Muhammad s.a.w. karena orang yang mengetahui atau hafal surat-surat tertentu te-lah meninggal dalam peperangan sebelum sempat menyalin apa yg telah didengar/diketahui.

Pengumpulan bahan-bahan Al Qur’an berlangsung beberapa tahun dan banyak masalah yang timbul. Disamping catatan-catatan asli banyak yang hilang karena ditulis pada bahan-bahan yang mudah pudar, juga daya ingat dan hafalan manusia antara satu dengan lainnya kemampuannya tidak sama.

Al Qur’an disusun tidak berdasarkan pola narasi sejarah yang runtun sehingga kita tidak dapat mengikuti kehidupan, tindakan-tindakan dan pengajaran-pengajaran yang dilakukan Muhammad s.a.w. sejak dari awal sampai akhir.

Kita dihadapkan pada kumpulan Surat-surat yang tidak menggambarkan adanya pola penyusunan yang baik dan wajar, sehingga sangat mudah untuk dihilangkan atau disusupi oleh berbagai-bagai ajaran dan kepentingan pribadi maupun golongan disaat dilakukan kodifikasi/dibukukan maupun setelahnya.

Al Qur’an tidak dapat diteliti atas Wahyu -wahyu Illahi yang dihilangkan maupun yang disusupkan, karena tidak tersusun berdasarkan urutan Wahyu yang diterima Muhammad s.a.w. sedangkan catatan aslinya sudah terlanjur dimusnahkan dan yang hafal sudah meninggal.

Akhirnya masalah perbedaan diselesaikan atau dipecahkan dengan secara kekerasan pisik dan memaksa orang-orang untuk menggunakan hanya salah satu versi saja, sedangkan versiversi lain harus dihancurkan atau dimusnahkan ketika Al Qur’an sudah terkodifikasi/dibukukan.

Menurut perkembangannya, ritual paganisme oleh kaum Muslim diakui/diklaim sebagai ritual yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a. s. dan Nabi Ismail a. s. ketika selesai membangun Ka’bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar